Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara, Apakah Normal ? Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara, Apakah Normal ?

Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara, Apakah Normal ?


Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara

Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara

Speech Delay atau keterlambatan bicara adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Penyebab gangguan bicara dan bahasa sangat luas dan banyak, terdapat beberapa tanda yang harus diwaspadai untuk lebih mudah mendeteksi gangguan ini.

Kenapa Anak Terlambat Bicara?

Banyak hal yang dapat menyebabkan keterlambatan dalam berbicara pada anak. Gangguan tersebut ada yang ringan, ada pula yang berat. Ada yang membaik setelah usia tertentu, ada juga yang tak menampakkan kemajuan. Keterlambatan bicara bisa terjadi akibat gangguan proses pendengaran, gangguan penerus impuls ke otak, kelainan organ bicara, atau organ pembuat suara. Penyebab utama keterlambatan bicara, yaitu retardasi mental, gangguan pendengaran, dan keterlambatan maturasi.

Keterlambatan maturasi juga disebut keterlambatan bicara fungsional, termasuk gangguan paling ringan dan saat usia tertentu akan membaik. Penyebab lain yang relatif jarang adalah kelainan organ bicara, kelainan genetik atau kromosom, autisme, mutisme selektif, afasia reseptif, dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan bisa disebabkan oleh lingkungan sepi, dua bahasa, status ekonomi sosial, teknik pengajaran yang salah, dan sikap orangtua.

Jangan Cemas Dulu Bila Anak Terlambat Bicara

Orangtua layak bingung jika anak terlambat bicara. Akan tetapi jangan lalai untuk segera mencari terapi. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan orangtua jika terjadi gangguan atau keterlambatan bicara pada sang buah hati, yaitu jangan biarkan anak menonton TV terlalu lama karena akan berdampak kurang baik terhadap perkembangannya, sediakan waktu mengajak anak berinteraksi dengan teman-teman sebayanya, lakukan stimulasi dengan mengajak anak berkomunikasi meskipun ia belum mampu berbicara dengan baik, mulailah membacakan dongeng. atau buku cerita anak sejak usia 6 bulan dan mengajarkan anak pengucapan kata-kata dengan jelas (intonasi, bentuk mulut/bibir saat mengucapkannya).

Contoh: makan bukan maem atau mamam, minum bukan mik atau num, susu bukan cucu, dsb. Pada beberapa kasus terdapat kondisi anak terlambat bicara namun bisa membaik dengan sendirinya. Apabila kemampuan bicara tidak mengalami kemajuan, terapi sejak dini akan sangat membantu mengoptimalkan perkembangannya.

Konsultasikan dengan dokter/ psikolog/psikiater tentang apa yang seharusnya dikuasai oleh anak pada usia tertentu. Usahakan mencari the second opinion untuk memperkuat pernyataan dokter yang sebelumnya sekaligus memperkaya informasi tentang kondisi anak kita yang sebenarnya. Semakin dini kita mendeteksi kelainan atau gangguan tersebut maka semakin baik pemulihannya. Semakin cepat diketahui penyebab gangguan bicara dan bahasa maka semakin cepat stimulasi dan intervensi dapat dilakukan pada anak yang mengalami keterlambatan dalam berbicara.

Dalam terapi wicara dan bahasa, seorang terapis wicara akan melakukan sesi terapi tatap muka individual (one to one), dalam kelompok kecil, atau langsung di ruang kelas, guna menghindari distraksi yang disebabkan oleh gangguan/kelainan tertentu. Terapis menggunakan berbagai strategi terapi, diantaranya:

  • Kegiatan Intervensi Bahasa. Dalam latihan ini terapis akan berinteraksi dengan anak lewat aktivitas bermain dan berbicara. Terapis dapat menggunakan gambar, buku, obyek tertentu, atau kejadian di sekitar anak pada saat aktivitas berlangsung, untuk menstimulasi perkembangan bahasa.Terapis juga dapat mencontohkan pelafalan yang tepat dan melakukan latihan berulangulang untuk membangun kemampuan bicara dan bahasa anak.
  • Terapi Artikulasi. Dalam latihan artikulasi atau pembentukan suara, peran terapis dalam memberikan contoh pembentukan bunyi serta suku kata yang tepat kepada anak, harus dilakukan secara konsisten selama aktivitas berlansung. Tingkat kesulitan aktivitas bermain harus disesuaikan dengan usia dan jenis kebutuhan anak. Terapis akan memberikan contoh bagaimana memproduksi suara dengan tepat dengan cara memeragakan secara gamblang pergerakan lidah dan alat ucapan lainnya sehingga sebuah bunyi – misalnya ‘r’- dapat dihasilkan dengan baik dan tepat.
  • Terapi Oral Motorik/Terapi Makan. Terapis akan menggunakan berbagai terapi oral motorik, termasuk pemijatan wajah (facial massage) dan berbagai terapi penggerakan lidah, bibir, dan rahang untuk memperkuat otot-otot mulut. Sementara itu dalam terapi makan dan menguyah, terapis akan menggunakan beberapa macam makanan dengan tingkatan tekstur dan temperatur yang berbeda, sehingga dapat melatih kepekaan oral motorik anak pada saat makan dan menguyah.

REKOMENDASI

squavit

happy wheels 2
CLOSE
CLOSE