Gangguan Kesehatan Saat Mudik dan Obatnya

Share This

Mudik dan lebaran adalah dua kata yang tidak dapat dipisahkan dewasa ini. Tradisi yang sekarang sudah menjadi budaya dan meluas ke seluruh wilayah di Indonesia menjadi hal yang sangat menarik, bahkan di klaim budaya mudik di Indonesia merupakan budaya unik dan satu-satunya di dunia. Sehingga mahfum disadari, karena mudik menyangkut jumlah mobilisasi manusia yang banyak, tentunya hal-hal yang berkaitan dengan risiko pada saat mudik juga meningkat.

Kejadian seperti sakit di perjalanan atau justru sakit saat lebaran karena kecapekan saat mudik banyak sekali didapati. Kejadian kecelakaan di jalanpun kadang menghiasi pemberitaan di media. Namun, mudik tetaplah mudik. Suatu budaya untuk berkumpul kepada keluarga, bersilaturahmi dan merasakan indahnya kemenangan setelah 1 bulan berpuasa. Sehingga kita jangan menyalahkan orang yang mudik, jangan menyalahkan mereka yang membuat macet jalan, jangan menyalahkan mereka yang rela berdesak-desakan untuk naik moda transportasi yang ada. Tugas kita bersama pemerintah untuk mengurangi kejadian yang tidak diinginkan saat mudik. Mulai membantu mendirikan posko istirahat dan posko kesehatan bagi pemudik yang membutuhkan, membantu aparat secara suka rela untuk mengatur arus lalu lintas untuk kelancaran transportasi.

Begitupula melalui tulisan ini, izinkanlah saya memberikan sumbangsih tulisan agar pemudik bisa tetap prima dan sehat baik selama mudik dan saat lebaran di kampung halaman nantinya.

Gangguan kesehatan apa yang sering terjadi saat mudik dan lebaran?

Moda transportasi saat mudik didominasi dengan jalur darat. Baik menggunakan transportasi umum, mobil atau motor. Dan kebanyakan rute yang ditempuh cukup jauh sehingga cukup menyita waktu berimbas terhadap perubahan waktu tidur dan makan. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap kesehatan pemudik. Gangguan kesehatan bisa terjadi langsung saat mudik tersebut atau bisa juga terjadi setelah sampai ke kampung halaman. Parahnya lagi justru malah sakit setiba di kampung halaman, sehingga tidak bisa menikmati indahnya lebaran.

Berikut adalah gangguan kesehatan yang sering terjadi baik saat mudik maupun saat tiba di kampung halaman saat berlebaran yang di rangkum dari berbagai sumber tulisan:

  1. Masuk angin
    Sebenarnya secara ilmu medis, tidak ada diagnosa masuk angin seperti yang dituliskan tersebut. Dari tulisan saya sebelumnya tentang masuk angin, istilah ini bukanlah suatu penyakit, tapi suatu sindrom atau kumpulan gejala karena daya tahan tubuh yang turun. Kumpulan gejala tersebut antara lain badan terasa hangat atau demam, otot-otot terasa nyeri, hidung bersin dan meler, batuk-batuk ringan dan nyeri kepala. Intinya masuk angin adalah suatu gangguan kesehatan akibat daya tahan tubuh yang turun.Kenapa seseorang bisa masuk angin saat mudik? Dalam keadaan normal, makan teratur, tidur cukup dan aktivitas yang normal, daya tahan tubuh akan bekerja secara efektif. Namun ketika terjadinya perubahan pola istirahat, pola makan, terpapar cuaca luar yang lama, hal tersebut akan menyebabkan sistem daya tahan tubuh kita terganggu dan akhirnya bakteri-bakteri yang ada di dalam tubuh menjadi lebih aktif, dan seseorang menjadi terganggu kesehatannya.
  2. Maag
    Maag berasal dari bahasa Belanda yang artinya lambung. Namun kata maag di masyarakat mengandung arti gangguan lambung yang mengacu kepada meningkatnya asam lambung yang mengakibatkan nyeri pada ulu hati, terasa kembung, mual dan muntah serta nyeri kepala.Risiko terjadinya peningkatan asam lambung sangat mungkin terjadi saat mudik. Hal ini bisa dimaklumi karena konsumsi makanan selama mudik tidak akan selengkap saat makan di rumah. Pengaturan komposisi makanan terutama tinggi serat tidak sepenuhnya bisa diterapkan saat mudik. Alih-alih makananya yang sesuai standar, kadang kala para pemudik malah sering telat makan atau makan seadanya karena lebih mengutamakan pencapaian target waktu sampai ke tempat tujuan.
  3. Nyeri sendi dan nyeri otot
    Gangguan kesehatan terkait nyeri sendi yang nyeri otot juga sangat sering dikeluhkan para pemudik. Gangguan ini tidak langsung terjadi, tetapi biasanya akan dirasakan setelah sampai 1-2 hari di tempat tujuan.Nyeri sendi biasanya sering terjadi pada pemudik yang menggunakan transportasi umum seperti bus dan kereta api di mana harus mempertahankan posisi duduk dalam waktu yang lama. Sendi yang sering dikeluhkan adalah sendi lutut, sendi bahu dan tulang belakang. Kejadian nyeri ini meningkat seiring usia dan bagi para pemudik yang mempunyai penyakit radang sendi dan asam urat yang tinggi. Namun nyeri sendi biasanya hanya bersifat sementara dan akan menghilang seiring dengan istirahat yang cukup. Nyeri sendi yang terjadi ini berbeda dengan rematik yang merupakan penyakit autoimun, di mana penyakit ini terjadi karena aktivitas autoimun dan tidak berkaitan dengan nyeri sendiri karena mudik.Nyeri otot terjadi karena peningkatan laktat yang merupakan produk samping metabolisme karbohidrat. Saat beraktivitas, metabolisme karbohidrat diperlukan untuk menyediakan energi yang cukup, namun kadangkala saat aktivitas terus menerus, otot dapat menjadi kekurangan oksigen yang menyebabkan terbentuknya laktat yang akhirnya menumpuk di otot dan menyebabkan nyeri otot. Nyeri ini akan muncul beberapa hari setelah aktivitas. Artinya justru saat pemudik sudah sampai di kampung halaman, kemungkinan justru baru terjadi nyeri otot. Sejatinya nyeri ini juga akan hilang sendiri dengan beristirahat.
  4. Nyeri kepala
    Jalanan yang macet, berdebu dan polusi yang tinggi merupakan faktor pencetus nyeri kepala. Sakit kepala dapat terjadi karena pelebaran pembuluh darah di kepala atau karena ketegangan otot di kepala. Saat di jalan, pemudik yang terpapar asap polusi kendaraan menyebabkan otak kekurangan oksigen dan akhirnya pembuluh darah melebar untuk mengimbangi pasokan oksigen ke notak, mata yang selalu siaga melihat jalanan, otot-otot wajah dan leher tegang yang semakin tinggi aktivitasnya merupakan suatu faktor risiko terjadinya nyeri kepala.Bijak kiranya pagi pengendara yang sudah mengalami gangguan tersebut segera berhenti dan beristirahat sejenak, karena jika diteruskan nyeri akan bertambah hebat dan justru membahayakan perjalanan. Biarkan otak untuk kembali maksimal mengkonsumsi oksigen dan otot-otot sekitar wajah dan leher menjadi lebih relaksasi.
  5. Dehidrasi
    Dalam keadaan aktivitas ringan dan sedang, kebutuhan cairan tubuh kita sekitar 30 ml/KgBB/24 jam. Jika berat kita adalah 50 Kg, kebutuhan cairan hanya 1500 ml (mililiter) atau 1,5 liter. Namun saat mudik, kebutuhan cairan tubuh akan meningkat. Kenapa?Mudik merupakan aktivitas tubuh yang berat, ditambah lagi jika seseorang mudik menggunakan motor, maka risiko kehilangan cairan melalui kulit karena panas matahari juga meningkat. Jika kita simulasi pada seseorang dengan berat 50 Kg, bahwa saat aktivitas berat keperluan cairan bertambah 10% dan kehilangan cairan di kulit karena panas dan keringat sekitar 40% maka keperluan cairannya adalah 1500 ml + 40% yaitu 2100 ml atau 2,1 liter. Bayangkan jika pemudik dalam keadaan berpuasa dan menggunakan motor saat siang hari, tentunya risiko menjadi dehidrasi. Sehingga disarankan mudik sore hari menjelang malam untuk mengurangi risiko terjadinya kekurangan cairan.

Persiapkan bahan obat-obatan sederhana berikut:

Dalam menempuh perjalanan panjang, tentunya kita harus mempunyai bekal. Salah satu bekal yang wajib dibawa adalah obat-obatan agar perjalanan menjadi lebih lancar dan juga menunjang kesehatan selama berlebaran di kampung halaman. Berikut adalah obat-obatan yang direkomendasikan untuk menjadi teman perjalanan.

  1. Parasetamol
    Ini adalah obat yang mempunyai efek anti panas dan anti nyeri. Jika kadar nyeri masih dalam tahap ringan, maka parasetamol adalah obat pilihan yang cocok, selama tidak ada gangguan hati yang berat. Dosis untuk nyeri berkisar antara 500 -650 mg. Pada beberapa merk obat ditambahkan kombinasi kafein untuk mempercepat reaksi antinyerinya.
  2. Antasida
    Antasida merupakan obat yang menetralisir asam lambung secara langsung. Obat ini sangat cocok dikonsumsi saat terjadi serangan peningkatan asam lambung dengan gejala nyeri ulu hati, mual dan muntah, perut terasa kembung. Obat ini tidak cocok sebagai terapi pemeliharaan, yaitu terapi untuk mencegah meningkatnya asam lambung, karena memang fungsinya hanya menetralisasi, bukan untuk mengurangi produksi asam lambung.Konsumsi 1 atau 2 tablet saat serangan dan langsung dikunyah akan cepat dan efektif untuk menetralkan asam lambung. Yang perlu diperhatikan obat ini mempunyai efek menghambat penyerapan obat lain, sehingga harus diminum tanpa bersamaan obat yang lainnya.
  3. Attapulgite
    Ini adalah obat yang digunakan untuk mengatasi diare. Obat ini bekerja dengan memperlambat aktivitas usus besar sehingga usus akan menyerap lebih banyak air dan tinja akan menjadi lebih padat.Sakit perut karena diare juga dapat dikurangi dengan obat ini.Obat ini dijual bebas di pasaran dengan merk yang bermacam-macam. Cara mengonsumsinya adalah 2 tablet saat pertama kali minum obat, dan selanjutnya 1 tablet tiap buang air besar (BAB) cair sampai tidak diare lagi. Maksimal sehari 8 – 10 tablet dengan efek samping jika berlebihan adalah konstipasi (tinja menjadi keras dan sulit keluar)
  4. Vitamin B Kompleks
    Vitamin merupakan suplemen penunjang bagi tubuh manusia. Seyogyanya kebutuhan vitamin pada tubuh manusia akan tercukupi dengan makanan yang bergizi sehingga tidak diperlukan tambahan dari luar. Namun kadangkala ketika terdapat aktivitas berlebih tubuh dengan asupan nutrisi yang tidak cukup adekuat, diperlukan tambahan suplemen vitamin terutama vitamin B kompleks untuk menghindari gangguan saraf dan otot yang sefat akut.Sumplemen vitamin B kompleks hanya bersifat sewaktu-waktu dan tidak dianjurkan untuk dikonsumsi rutin secara lama. Dosisnya hanya sehari sekali dan disarankan meminum saat perut kosong dengan 1 gelas air putih.
  5. Chlorpheniramine Maleat (CTM)
    Serangan alergi kadang tidak bisa diprediksi kapan terjadi. Bisa karena makanan, udara dingin, debu jalanan atau hanya karena embun pagi hari di jalan. Alergi adalah reaksi autoimun tubuh namun akan menggangu jika tidak diobati. Gejala yang ringan adalah timbulnya gatal-gatal dan kemerahan pada kulit. Bisa terjadinya bersin pada hidung dan jika menjadi lebih parah sampai sesak nafas.Jika merasakan hal tersebut dan meyakini hal tersebut adalah alergi, maka persedian obat anti alergi yaitu CTM dirasa cukup membantu. Namun perlu diperhatikan bahwa efek samping obat-obat anti alergi salah satunya CTM adalah mengantuk. Sehingga jika mengonsumsi obat ini, pemudik sebaiknya beristirahat dulu atau tidur untuk menghilangkan efek mengantuknya tersebut.
  6. Krim antinyeri
    Saat mudik rentan sekali kaki atau tangan terbentur yang menyebabnya nyeri sendi dan nyeri otot. Hal tersebut cukup dimaklumi karena di jalan mungkin saja terjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sehingga penting sekali membawa krim antinyeri sebagai salah satu obat bawaan. Krim antinyeri (bisa dalam bentuk salep, gel atau lotion) biasanya mengandung zat aktif antiinflamasi yang bertujuan untuk mengurangi peradangan lokal di daerah yang dioleskan. Menghentikan peradangan tentunya akan mengurangi rasa nyeri, bengkak atau kemerahan yang terjadi akibat kejadian yang tidak diinginkan. Krim antinyeri ini banyak tersedia di pasaran dengan merk yang beraneka macam.Krim antinyeri masing-masing merk mempunyai jenisnya tersendiri. Antara bentuk gel dengan salep ataupun lotion akan berbeda juga jumlah kandungan dan waktu penyerapannya, sehingga bijak kiranya membaca aturan pemakaian.. Pemakaiannya hanya diindikasikan pada nyeri akibat trauma yang bersifat ringan dan tidak ada luka. Jika trauma sangat berat sebaiknya berobat ke fasilitas kesehatan terdekat. Dan jika terdapat luka, krim ini dilarang untuk dioleskan di daerah luka.
  7. Lainnya
    Selain obat yang disebutkan di atas, ada beberapa bahan yang dapat menjadi pelengkap untuk menunjang kesehatan selama mudik. Bahan-bahan tersebut antara lain seperti minyak kayu putih, minyak angin, inhaler/pelega nafas, mouthwash dan gel antiseptik. Bahan-bahan ringan tersebut walaupun sepele tapi kadang membantu selama perjalanan dan saat lebaran.

Jangan obati sendiri, bawa ke fasilitas kesehatan terdekat jika:

Kita sudah mempersiapkan obat-obatan saat mudik, namun ada beberapa hal jika ini terjadi maka sebaiknya tidak usah mengobati sendiri dan sebaiknya mendatangi posko atau fasilitas kesehatan terdekat. Hal-hal tersebut antara lain:

  1. Demam saat perjalanan
  2. Kecelakaan dengan luka-luka atau curiga pergeseran tulang dan sendi
  3. Sesak nafas memberat
  4. Nyeri dada memberat di perjalanan
  5. Nyeri kepala yang tidak menghilang/berkurang dengan anti nyeri
  6. Serangan asma

Demikianlah sedikit tulisan ini agar membantu kelancaran bagi para pemudik yang akan merayakan lebaran beserta keluarga. Seperti yang dituliskan di awal tadi, bahwa mudik merupakan budaya kita dan selalu ditunggu setiap tahun. Kejadian-kejadian yang tidak diinginkan selama mudik adalah risiko yang tentunya harus dipikirkan bagaimana mengurangi risiko itu terjadi di kemudian hari, dan hal tersebut tanggung jawab kita bersama, bukan hanya pemerintah. Setidaknya jika memang tidak bisa membantu, jangan menghardik atau nyinyir dengan orang yang mudik, karena mereka juga punya hak yang sama untuk merasakan hangatnya berkumpul bersama keluarga dengan takaran kemampuan yang mereka miliki masing-masing.

(Sumber: Kompasiana/Meldy Muzada Elfa)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *